
Jahe (Zingiber officinale Roscoe) merupakan salah satu tanaman obat yang banyak digunakan dalam pengobatan tradisional dan telah diteliti secara ilmiah memiliki berbagai aktivitas farmakologis. Rimpang jahe mengandung senyawa bioaktif utama seperti gingerol, shogaol, zingerone, dan paradol, yang berperan penting dalam memberikan efek terapeutik. Senyawa-senyawa tersebut termasuk dalam golongan fenolik yang dikenal memiliki aktivitas biologis tinggi, terutama sebagai antioksidan dan antiinflamasi.
Secara farmakologis, jahe memiliki fungsi sebagai antiinflamasi dengan cara menghambat jalur pembentukan mediator inflamasi seperti prostaglandin dan leukotrien melalui penghambatan enzim cyclooxygenase (COX) dan lipoxygenase (LOX). Mekanisme ini membuat jahe efektif digunakan untuk meredakan nyeri, peradangan sendi, serta gangguan inflamasi lainnya. Selain itu, aktivitas antioksidan jahe mampu menangkap radikal bebas sehingga membantu melindungi sel dari kerusakan oksidatif.
Jahe juga dikenal memiliki aktivitas antihiperlipidemik dan antikanker. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa 6-gingerol dan 6-shogaol mampu menghambat proliferasi sel kanker melalui induksi apoptosis, penghambatan siklus sel, serta penekanan ekspresi protein anti-apoptosis seperti Bcl-2. Selain itu, jahe dapat menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida dengan menghambat absorpsi lemak dan meningkatkan metabolisme lipid.
Selain manfaat tersebut, jahe banyak digunakan sebagai agen gastroprotektif dan antiemetik, terutama untuk mengatasi mual, muntah, dan gangguan pencernaan. Jahe bekerja dengan mempercepat pengosongan lambung dan mengurangi kontraksi abnormal pada saluran cerna. Dengan berbagai aktivitas biologis tersebut, jahe berpotensi besar dikembangkan sebagai bahan baku obat herbal maupun fitofarmaka yang aman dan efektif.