Oleh : Muhammad Teva Syawal & Said Saleh Brik Bajri (Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Pamulang)
Anak usia dini saat ini tumbuh dalam lingkungan yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital. Dalam kesehariannya, anak lebih mudah tertarik pada gambar bergerak, suara, dan aktivitas interaktif dibandingkan pembelajaran berbasis teks, Namun, proses pembelajaran Bahasa Indonesia di PAUD masih sering menggunakan cara konvensional yang kurang sesuai dengan karakter belajar anak. Hal ini dapat menyebabkan rendahnya minat belajar serta kurang optimalnya perkembangan kemampuan berbahasa. Artikel ini membahas pemanfaatan pendekatan visual, interaktif, dan digital sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia pada anak usia dini. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan menelaah hasil penelitian lima tahun terakhir yang berkaitan dengan penggunaan media digital dan audiovisual dalam pembelajaran bahasa. Hasil kajian menunjukkan bahwa media digital yang bersifat interaktif dapat membantu anak memahami kosakata, melatih keberanian berbicara, serta meningkatkan keterlibatan anak dalam kegiatan belajar. Penggunaan gambar, suara, dan animasi juga mempermudah anak dalam mengaitkan bunyi bahasa dengan makna kata. Meskipun demikian, teknologi tidak dapat menggantikan peran guru dan orang tua. Pendampingan yang tepat diperlukan agar penggunaan media digital tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran dan perkembangan anak. Dengan pengelolaan yang baik, teknologi dapat menjadi sarana pendukung yang efektif untuk menciptakan pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih menarik, mudah dipahami, dan relevan dengan kondisi anak di era digital.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan anak usia dini. Anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi perangkat digital, seperti ponsel pintar, tablet, dan media audiovisual interaktif. Paparan teknologi tersebut membentuk cara anak belajar, berkomunikasi, dan memahami informasi. Anak usia dini cenderung lebih tertarik pada pembelajaran yang melibatkan gambar, suara, warna, dan interaksi langsung dibandingkan dengan metode pembelajaran berbasis teks. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Di sisi lain, pembelajaran Bahasa Indonesia di PAUD masih banyak dilakukan dengan pendekatan konvensional, seperti hafalan kosakata, pengulangan kata, dan penggunaan buku cetak yang minim visual. Pendekatan ini sering kali kurang mampu menarik perhatian anak dan belum sepenuhnya mendukung karakteristik belajar anak usia dini yang bersifat visual, auditori, dan kinestetik. Akibatnya, kemampuan berbahasa anak, khususnya dalam aspek kosakata, keberanian berbicara, dan pemahaman makna, belum berkembang secara optimal.
Berdasarkan hasil analisis terhadap berbagai sumber pustaka yang relevan, ditemukan bahwa pemanfaatan media visual, interaktif, dan digital memberikan dampak positif terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia pada anak usia dini. Mayoritas penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital mampu meningkatkan keterlibatan anak dalam kegiatan belajar, khususnya dalam aspek bahasa lisan dan penguasaan kosakata. Anak cenderung lebih fokus dan antusias ketika pembelajaran disajikan melalui media yang menggabungkan gambar, animasi, suara, dan aktivitas interaktif.
Hasil kajian juga menunjukkan bahwa media audiovisual, seperti video cerita anak dan lagu berbahasa Indonesia, membantu anak memahami makna kata dan konteks penggunaan bahasa secara lebih alami. Anak tidak hanya mendengar kata, tetapi juga melihat visual yang mendukung makna, sehingga proses pemahaman bahasa menjadi lebih mudah. Temuan ini sejalan dengan teori pembelajaran multimodal yang menekankan pentingnya penggabungan berbagai indera dalam proses belajar anak usia dini.
Selain itu, aplikasi pembelajaran interaktif yang dilengkapi fitur suara dan respon langsung terbukti mampu meningkatkan keberanian anak untuk berbicara. Anak lebih berani menirukan pelafalan kata, menyebutkan kosakata, dan merespon instruksi karena pembelajaran dikemas dalam bentuk permainan yang menyenangkan. Interaksi digital juga membantu anak belajar tanpa rasa tertekan, sehingga suasana belajar menjadi lebih positif.
Namun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital tidak selalu berdampak optimal apabila tidak disertai pendampingan guru dan orang tua. Media digital yang digunakan tanpa arahan berpotensi membuat anak hanya menjadi penonton pasif. Oleh karena itu, peran guru sebagai pendamping sangat penting dalam mengarahkan penggunaan media agar tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia. Guru perlu mengaitkan konten digital dengan aktivitas komunikasi langsung, seperti berdialog, bercerita, dan bermain peran.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa media visual, interaktif, dan digital dapat menjadi sarana yang efektif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di PAUD apabila digunakan secara terencana, selektif, dan didukung oleh interaksi manusiawi. Pendekatan ini mampu menciptakan pembelajaran bahasa yang lebih menarik, bermakna, dan sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dini di era digital.
Dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media visual, interaktif, dan digital memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia pada anak usia dini. Media digital yang menggabungkan unsur gambar, suara, dan interaksi mampu meningkatkan keterlibatan anak, memperkaya kosakata, serta mendorong keberanian anak dalam berkomunikasi secara lisan. Pembelajaran bahasa menjadi lebih menarik dan mudah dipahami karena disesuaikan dengan karakteristik belajar anak usia dini yang cenderung visual dan kinestetik. Meskipun demikian, teknologi tidak dapat berdiri sendiri dalam proses pembelajaran. Peran guru dan orang tua tetap menjadi faktor utama dalam mengarahkan, mendampingi, dan memaknai penggunaan media digital agar sesuai dengan tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia.
Disarankan agar guru PAUD lebih selektif dan kreatif dalam memilih serta memanfaatkan media digital sebagai sarana pendukung pembelajaran bahasa. Guru diharapkan mampu mengintegrasikan teknologi dengan aktivitas komunikasi langsung agar anak tidak hanya berinteraksi dengan layar, tetapi juga dengan lingkungan sosialnya. Selain itu, orang tua perlu dilibatkan dalam pendampingan penggunaan media digital di rumah untuk menjaga kesinambungan pembelajaran. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji secara lebih mendalam penerapan media digital melalui penelitian lapangan guna memperoleh data empiris terkait pengaruhnya terhadap perkembangan bahasa anak usia dini.