Skip ke Konten

Penggunaan Bahasa Campuran antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di Kalangan Generasi Modern

5 Januari 2026 oleh
sanfamedia
Oleh Aulia Tasya & Azizah Safina

Fakultas Komputer Universitas Pamulang Kota Tangerang Selatan 

Email : auliatasyaa2006@gmail.com zizahsafina@gmail.com

Abstrak

Penggunaan dua bahasa dalam komunikasi kini semakin sering dijumpai, terutama sejak arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital semakin pesat. Hal ini mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan generasi muda yang terbiasa mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, baik dalam percakapan langsung maupun tulisan di media sosial. Artikel ini membahas bagaimana penggunaan dua bahasa terjadi dalam komunikasi serta faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Penulisan artikel dilakukan dengan merujuk pada berbagai sumber bacaan ilmiah yang relevan. Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan dua bahasa memiliki dampak positif, seperti memperluas wawasan dan mempermudah komunikasi lintas budaya. Meski demikian, kebiasaan ini tetap perlu disikapi secara bijak agar keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional tetap terjaga.

Kata Kunci : Billingualisme, Generasi Muda, Komunikasi Sehari-hari.

Abstract

The use of two languages in communication has become increasingly common, particularly as globalization and digital technology continue to develop rapidly. This phenomenon is easily observed in everyday life, especially among younger generations who are accustomed to mixing Indonesian and English in both spoken interactions and written communication on social media platforms. This article discusses how bilingual language use occurs in communication and examines the factors underlying this practice. The article is written with reference to various relevant academic sources. The discussion concludes that the use of two languages offers positive impacts, such as broadening perspectives and facilitating cross-cultural communication. Nevertheless, this practice should be approached wisely to ensure that Indonesian, as the national language, remains preserved.

Keywords : Billingualisme, Daily Communication, Young Generation.

Pendahuluan

Di kalangan generasi modern, penggunaan Bahasa Indonesia yang bercampur dengan Bahasa Inggris semakin menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari. Fenomena ini muncul seiring meningkatnya paparan global melalui media digital, budaya populer, dan interaksi daring, yang membuat Bahasa Inggris hadir secara natural dalam kehidupan generasi muda (Nabilla, 2025). Bahasa tidak lagi digunakan secara tunggal, melainkan disesuaikan dengan konteks, situasi, dan kebutuhan ekspresi.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pencampuran bahasa berfungsi sebagai bentuk adaptasi linguistik dan penanda kedekatan sosial, terutama di kalangan remaja dan generasi muda. Bahasa campuran dipandang lebih fleksibel, modern, dan mampu mewakili makna tertentu yang dirasa kurang tepat jika diungkapkan hanya dengan Bahasa Indonesia (Auva Rif’at Azizah, 2019)

Temuan kuesioner dalam penelitian ini memperlihatkan bahwa bahasa campuran paling sering digunakan dalam situasi santai, percakapan dengan teman sebaya, media sosial, serta saat mengekspresikan emosi. Responden menilai bahwa penggunaan bahasa campuran terasa lebih spontan, praktis, dan mampu menyampaikan perasaan secara lebih tepat, terutama untuk istilah yang berkaitan dengan pengalaman emosional dan budaya digital.

Berdasarkan hal tersebut, penggunaan bahasa campuran dapat dipahami sebagai praktik komunikasi yang hidup dan kontekstual, mencerminkan cara generasi modern beradaptasi dengan perubahan sosial dan budaya tanpa sepenuhnya meninggalkan Bahasa Indonesia.

Pembahasan

Penggunaan dua bahasa dalam komunikasi sehari-hari dikenal sebagai bilingualisme. Dalam praktiknya, bilingualisme kerap muncul melalui alih kode (code-switching) dan campur kode (code-mixing), yakni ketika penutur berpindah atau mencampurkan dua bahasa dalam satu tuturan. Fenomena ini umum dijumpai dalam percakapan santai generasi muda, misalnya melalui ungkapan seperti “Aku lagi prepare buat ujian besok” atau “Nanti aku update lagi, ya”. Bentuk campur kode semacam ini menunjukkan bahwa bahasa tidak selalu digunakan secara utuh, melainkan disesuaikan dengan konteks dan kebiasaan sosial penuturnya. (Nabilla, 2025).

Salah satu faktor utama yang melatarbelakangi munculnya kebiasaan ini adalah pengaruh globalisasi. Bahasa Inggris kini berperan sebagai bahasa internasional yang dominan di berbagai bidang, seperti pendidikan, teknologi, hiburan, dan dunia kerja. Paparan terhadap bahasa Inggris semakin intens melalui film, musik, media sosial, serta konten digital lainnya, sehingga kosakata dan ungkapan tertentu secara tidak sadar terbawa ke dalam komunikasi sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap bahasa asing melalui media digital berkontribusi besar terhadap terbentuknya kebiasaan campur kode di kalangan remaja dan generasi muda.

Data kuesioner yang dikumpulkan dalam penelitian ini memperkuat temuan tersebut. Mayoritas responden menyatakan bahwa penggunaan bahasa campuran paling sering terjadi dalam situasi santai, terutama saat berkomunikasi dengan teman sebaya dan di media sosial. Bahasa campuran juga kerap digunakan ketika mengekspresikan perasaan, seperti kelelahan, kebingungan, atau antusiasme, karena dianggap lebih mewakili nuansa emosi tertentu. Responden menilai bahwa beberapa istilah bahasa Inggris terasa lebih ringkas, praktis, dan “kena” dibandingkan padanan bahasa Indonesia, terutama dalam konteks percakapan informal.

Di sisi lain, penggunaan dua bahasa juga memiliki fungsi sosial. Campur kode dapat menjadi penanda kedekatan, solidaritas, dan identitas kelompok. Dalam konteks pergaulan, bahasa campuran sering kali menciptakan kesan akrab dan modern. Namun, jika kebiasaan ini dilakukan secara berlebihan tanpa memperhatikan situasi, dikhawatirkan dapat memengaruhi kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, khususnya dalam konteks formal seperti pendidikan dan penulisan akademik. Kekhawatiran ini juga disoroti dalam penelitian yang menekankan pentingnya keseimbangan antara keterbukaan terhadap bahasa asing dan pemeliharaan bahasa nasional. Oleh karena itu, kesadaran dalam berbahasa menjadi hal yang penting. Bahasa asing sebaiknya digunakan sebagai pelengkap untuk memperkaya komunikasi dan memperluas wawasan, bukan sebagai pengganti bahasa Indonesia.

Data kuesioner menunjukkan bahwa generasi muda pada dasarnya memiliki kesadaran kontekstual, yakni mampu menyesuaikan bahasa yang digunakan dengan lawan bicara dan situasi. Dengan sikap berbahasa yang bijak, masyarakat tetap dapat mengikuti perkembangan global sekaligus menjaga bahasa Indonesia sebagai bagian dari identitas dan pemersatu bangsa.

Kesimpulan

Penggunaan dua bahasa dalam komunikasi sudah menjadi hal yang lumrah di era sekarang. Kebiasaan ini membawa banyak manfaat, mulai dari menambah wawasan hingga membantu seseorang berkomunikasi lebih luas di tingkat global. Meski demikian, penggunaan dua bahasa tetap perlu disikapi secara bijaksana. Bahasa Indonesia sebaiknya tetap menjadi pilihan utama, khususnya dalam situasi formal. Dengan sikap yang tepat, kemampuan menggunakan dua bahasa justru dapat menjadi keunggulan dalam menghadapi perkembangan global tanpa harus menghilangkan identitas kebangsaan.

Daftar Rujukan

Dampak Globalisasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris(Nabilla, 2025) Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Kehidupan Sehari-Hari(Volume 5 Nomor 2, September 2019 33, 2019)




AI: Penyelamat Bahasa Baku atau Pemicu Bahasa Gaul di Kampus?