Fakultas Komputer Universitas Pamulang Kota Tangerang Selatan
Email : auliatasyaa2006@gmail.com zizahsafina@gmail.com
Abstrak
Kata Kunci : Billingualisme, Generasi Muda, Komunikasi Sehari-hari.
Abstract
Keywords : Billingualisme, Daily Communication, Young Generation.
Pendahuluan
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pencampuran bahasa berfungsi sebagai bentuk adaptasi linguistik dan penanda kedekatan sosial, terutama di kalangan remaja dan generasi muda. Bahasa campuran dipandang lebih fleksibel, modern, dan mampu mewakili makna tertentu yang dirasa kurang tepat jika diungkapkan hanya dengan Bahasa Indonesia (Auva Rif’at Azizah, 2019)
Temuan kuesioner
dalam penelitian ini memperlihatkan bahwa bahasa campuran paling sering
digunakan dalam situasi santai, percakapan dengan teman sebaya, media sosial,
serta saat mengekspresikan emosi. Responden menilai bahwa penggunaan bahasa
campuran terasa lebih spontan, praktis, dan mampu menyampaikan perasaan secara
lebih tepat, terutama untuk istilah yang berkaitan dengan pengalaman emosional
dan budaya digital.
Berdasarkan hal tersebut, penggunaan bahasa campuran dapat
dipahami sebagai praktik komunikasi yang hidup dan kontekstual, mencerminkan
cara generasi modern beradaptasi dengan perubahan sosial dan budaya tanpa
sepenuhnya meninggalkan Bahasa Indonesia.
Pembahasan
Penggunaan dua bahasa dalam komunikasi sehari-hari dikenal sebagai bilingualisme. Dalam praktiknya, bilingualisme kerap muncul melalui alih kode (code-switching) dan campur kode (code-mixing), yakni ketika penutur berpindah atau mencampurkan dua bahasa dalam satu tuturan. Fenomena ini umum dijumpai dalam percakapan santai generasi muda, misalnya melalui ungkapan seperti “Aku lagi prepare buat ujian besok” atau “Nanti aku update lagi, ya”. Bentuk campur kode semacam ini menunjukkan bahwa bahasa tidak selalu digunakan secara utuh, melainkan disesuaikan dengan konteks dan kebiasaan sosial penuturnya. (Nabilla, 2025).
Salah satu faktor utama yang melatarbelakangi munculnya kebiasaan ini adalah pengaruh globalisasi. Bahasa Inggris kini berperan sebagai bahasa internasional yang dominan di berbagai bidang, seperti pendidikan, teknologi, hiburan, dan dunia kerja. Paparan terhadap bahasa Inggris semakin intens melalui film, musik, media sosial, serta konten digital lainnya, sehingga kosakata dan ungkapan tertentu secara tidak sadar terbawa ke dalam komunikasi sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap bahasa asing melalui media digital berkontribusi besar terhadap terbentuknya kebiasaan campur kode di kalangan remaja dan generasi muda.
Data kuesioner yang dikumpulkan dalam penelitian ini memperkuat temuan tersebut. Mayoritas responden menyatakan bahwa penggunaan bahasa campuran paling sering terjadi dalam situasi santai, terutama saat berkomunikasi dengan teman sebaya dan di media sosial. Bahasa campuran juga kerap digunakan ketika mengekspresikan perasaan, seperti kelelahan, kebingungan, atau antusiasme, karena dianggap lebih mewakili nuansa emosi tertentu. Responden menilai bahwa beberapa istilah bahasa Inggris terasa lebih ringkas, praktis, dan “kena” dibandingkan padanan bahasa Indonesia, terutama dalam konteks percakapan informal.
Di sisi lain, penggunaan dua bahasa juga memiliki fungsi
sosial. Campur kode dapat menjadi penanda kedekatan, solidaritas, dan identitas
kelompok. Dalam konteks pergaulan, bahasa campuran sering kali menciptakan
kesan akrab dan modern. Namun, jika kebiasaan ini dilakukan secara berlebihan
tanpa memperhatikan situasi, dikhawatirkan dapat memengaruhi kemampuan
berbahasa Indonesia yang baik dan benar, khususnya dalam konteks formal seperti
pendidikan dan penulisan akademik. Kekhawatiran ini juga disoroti dalam
penelitian yang menekankan pentingnya keseimbangan antara keterbukaan terhadap
bahasa asing dan pemeliharaan bahasa nasional. Oleh karena itu, kesadaran dalam berbahasa menjadi hal yang
penting. Bahasa asing sebaiknya digunakan sebagai pelengkap untuk memperkaya
komunikasi dan memperluas wawasan, bukan sebagai pengganti bahasa Indonesia.
Data kuesioner menunjukkan bahwa generasi muda pada dasarnya
memiliki kesadaran kontekstual, yakni mampu menyesuaikan bahasa yang digunakan
dengan lawan bicara dan situasi. Dengan sikap berbahasa yang bijak, masyarakat
tetap dapat mengikuti perkembangan global sekaligus menjaga bahasa Indonesia
sebagai bagian dari identitas dan pemersatu bangsa.
Kesimpulan
Penggunaan dua bahasa dalam komunikasi sudah menjadi hal
yang lumrah di era sekarang. Kebiasaan ini membawa banyak manfaat, mulai dari
menambah wawasan hingga membantu seseorang berkomunikasi lebih luas di tingkat
global. Meski demikian, penggunaan dua bahasa tetap perlu disikapi secara
bijaksana. Bahasa Indonesia sebaiknya tetap menjadi pilihan utama, khususnya
dalam situasi formal. Dengan sikap yang tepat, kemampuan menggunakan dua bahasa
justru dapat menjadi keunggulan dalam menghadapi perkembangan global tanpa
harus menghilangkan identitas kebangsaan.
Daftar Rujukan
Dampak Globalisasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris(Nabilla, 2025) Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Kehidupan Sehari-Hari(Volume 5 Nomor 2, September 2019 33, 2019)