Skip ke Konten

Pengaruh Media Sosial terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia di Era Digital

1 Januari 2026 oleh
sanfamedia

Oleh : Alif Nur Fadillah, Irgi Yusuf El Kareem, Kasih, Rizki Akbar Putra Harmawan (Mahasiswa dan Dosen Program Studi Teknik Informatika Universitas Pamulang)

 Coba ingat obrolan terakhir di grup kelas. Ada yang nanya,stiker dan voice note. Di Instagram, caption-nya singkat, “lagi flexing dikit,” sementara di TikTok kolom komentarnya penuh “slay” dan “no cap.” Di X, thread panjang kadang tetap terasa seperti ngobrol cepat, bukan seperti esai. Di situlah pengaruh media sosial terhadap perkembangan bahasa Indonesia paling kelihatan. Bahasa kita berubah lebih cepat karena tren bisa naik dalam hitungan jam. Sisi serunya, kreativitas meledak, kosakata baru bermunculan, gaya bercanda makin kaya. Sisi riskannya, kebiasaan “asal cepat” bisa kebawa ke tugas, email dosen, laporan magang, sampai CV. Artikel ini ngebahas mekanismenya, dampak positif dan negatif buat mahasiswa, lalu cara tetap gaul tanpa bikin bahasa formal berantakan.

Media sosial itu seperti “kantin kampus” versi online, ramai, spontan, dan cepat menular. Satu istilah muncul di video TikTok, dipakai kreator lain, lalu masuk FYP kamu. Habis itu pindah ke Reels, jadi meme di X, dan akhirnya nyangkut di chat kamu. Prosesnya bukan rapi seperti kamus, tapi lewat kebiasaan pakai bareng-bareng. Ada beberapa pemicu yang bikin perubahan bahasa makin kencang. Pertama, budaya serba singkat. Di chat, orang pengin cepat nyampe. Di caption dan komentar, makin pendek sering terasa makin “nendang.” Alhasil, kalimat dipotong, konteks diserahkan ke pembaca, dan gaya bahasa jadi mirip ngobrol langsung. Kedua, algoritma dan viralitas. Konten yang lucu atau relate lebih gampang naik. Bersamaan dengan itu, gaya bahasa yang khas juga ikut naik. Kalau satu frasa dipakai berulang di ribuan video, otak kita otomatis menganggapnya “normal,” walau sebenarnya baru muncul kemarin. Ketiga, gaya ngobrol cepat lintas platform. TikTok mendorong punchline, Instagram mendorong estetika singkat, X mendorong opini cepat, Threads mendorong curhat ringkas. Mahasiswa sering lompat platform dalam sehari, jadi gaya bahasa pun ikut campur. Gambaran tren slang akhir 2025 juga keliatan dari banyak daftar istilah viral. Misalnya, beberapa istilah TikTok yang ramai dibahas media seperti Katadata mengulas contoh dan artinya, dari yang lucu sampai yang bikin orang tua bingung.

Slang lokal sudah lama ada, tapi media sosial bikin penyebarannya jauh lebih cepat. Kata seperti “baper,” “gokil,” “mantul” bisa bertahan lama karena kepakai di banyak konteks, dari bercanda sampai ngomel. Lalu muncul gelombang istilah yang kuat campur Inggris, misalnya “spill,” “flexing,” “slay,” “no cap,” “clout,” “rizz.” Campur-kode ini sering terasa praktis karena satu kata bisa merangkum makna panjang. “Spill” misalnya, terasa lebih singkat daripada “bocorin ceritanya.” “Flexing” terdengar pas untuk “pamer halus.” Buat banyak mahasiswa, ini juga soal identitas, pengin terdengar nyambung dengan komunitas tertentu. Yang menarik, ada istilah yang cuma jadi “gaya musiman,” ada juga yang pelan-pelan masuk percakapan umum. Kalau kata itu dipakai di kelas, organisasi kampus, sampai obrolan keluarga, biasanya peluang bertahannya lebih besar. Riset dan tulisan populer juga sering menyorot efek ini di generasi muda. Salah satu contoh bahasan akademik tentang pengaruh media sosial terhadap kosakata dan cara tulis bisa kamu lihat di artikel jurnal 2025 mengenai pengaruh media sosial terhadap perkembangan bahasa Indonesia di kalangan generasi muda.

Kalau kosakata baru itu seperti “menu baru,” maka singkatan dan ejaan bebas itu seperti “cara makan cepat.” Kita sering ketemu bentuk seperti “gpp,” “bgs,” “cpct,” huruf yang dihilangkan, tanda baca minimal, atau kapital yang dipakai buat efek emosi. Alasannya masuk akal, yaitu hemat waktu, ikut ritme chat, dan kadang dulu dipengaruhi batas karakter. Di grup kelas, gaya ini efisien. Masalahnya muncul saat kebiasaan itu kebawa ke luar konteks. Contoh yang sering kejadian adalah pesan ke dosen jadi terlalu santai karena singkatan dan tanpa salam, laporan praktikum terasa “setengah jadi” karena kalimatnya kepotong, atau CV dan email magang terlihat kurang rapi padahal isinya bagus. Yang paling riskan itu makna. Singkatan bisa bikin orang salah paham, apalagi kalau penerimanya beda generasi atau beda kebiasaan platform.

Buat mahasiswa, bahasa itu alat kerja. Dipakai buat presentasi, proposal kegiatan, laporan magang, sampai skripsi. Media sosial bisa bantu, tapi juga bisa nyusahin, tergantung cara kita mengontrolnya. Beberapa tulisan kampus juga menekankan dua sisi ini. Misalnya, UNESA membahas dampak sosial media pada penggunaan bahasa Indonesia di generasi muda, termasuk kecenderungan bahasa tidak baku dan kebutuhan kesadaran konteks.

Sisi positifnya, media sosial bikin bahasa Indonesia terasa hidup. Kita jadi punya banyak cara buat mengekspresikan emosi, mulai dari sarkas, humor receh, sindiran halus, sampai gaya storytelling yang rapi di thread. Buat anak organisasi kampus, ini membantu saat bikin konten proker, publikasi event, atau materi edukasi yang enak dibaca. Ada juga manfaat “ruang belajar” yang nggak terasa seperti kelas. Konten ringan tentang EYD, tips menulis, atau bedah kalimat sering lebih gampang dicerna daripada modul tebal. Bahkan akun yang fokus membetulkan ejaan di Instagram pernah dikaji sebagai sarana pembinaan bahasa, contohnya riset prosiding tentang konten kebahasaan Instagram. Plus, media sosial juga memberi ruang identitas. Campuran bahasa daerah, gaya tutur lokal, dan istilah komunitas bisa bikin orang merasa “punya rumah” di internet, selama tetap tahu kapan harus balik ke bahasa formal.

Sisi negatifnya, masalah bukan pada slang itu sendiri. Masalahnya saat kita kehilangan “rem” dan semua konteks dianggap sama. Beberapa efek yang sering kelihatan di dunia kampus antara lain kalimat yang tidak runtut. Terbiasa nulis pendek bikin argumen di tugas jadi loncat-loncat. Dosen minta analisis, yang keluar malah opini satu kalimat. Tanda baca juga sering asal, di mana koma dan titik berantakan bikin maksud berubah, apalagi di laporan yang butuh presisi. Selain itu, campur bahasa berlebihan. Sedikit campur Inggris itu wajar, tapi kalau satu paragraf campur tanpa kontrol, pembaca capek dan pesannya melemah. Terjadi juga pergeseran makna kata, di mana istilah viral kadang dipakai di semua situasi, padahal maknanya spesifik. Ini bikin komunikasi rawan salah paham. Ada juga gap generasi. Teman seumuran mungkin paham istilah baru, tapi dosen pembimbing atau HR magang bisa bingung. Akhirnya, yang kamu kirim bukan terlihat lucu, tapi terlihat kurang serius.

Tujuannya bukan jadi kaku. Tujuannya punya kontrol, seperti punya dua outfit, satu buat nongkrong, satu buat presentasi. Kita perlu pakai “dua mode bahasa”, santai untuk medsos, rapi untuk kelas dan kerja. Anggap saja kamu punya mode santai dan mode rapi. Contoh simpelnya, saat chat teman mungkin bilangnya “gpp, nanti aku spill ya,” tapi saat pesan ke dosen harus berubah menjadi “Selamat siang, Bu. Izin menginformasikan, saya kirim revisi hari ini. Terima kasih.” Ada tips cepat yang gampang dipraktikkan, yaitu baca ulang sepuluh detik sebelum kirim, pakai salam pembuka dan penutup untuk pesan formal, hindari singkatan yang bisa ditafsir beda, rapikan titik dan koma secukupnya saja, serta pilih kata yang jelas bukan yang cuma lucu. Latihan kecil yang efeknya besar adalah membuat kamus pribadi, catatan istilah, dan cek ejaan. Kalau kamu sering pakai istilah viral, bikin “kamus pribadi” di Notes dengan menulis kata, arti, dan konteksnya. Ini membantu biar kamu nggak asal ikut tren. Biasakan juga cek ejaan saat nulis tugas, dan nulis paragraf utuh beberapa kali seminggu, misalnya ringkasan bacaan atau jurnal kuliah lima menit. Ini melatih alur berpikir, bukan cuma reaksi cepat. Kalau ragu, pilih kata baku. Di dokumen resmi, bahasa baku itu seperti sepatu pantofel, mungkin nggak selalu paling santai, tapi aman di banyak acara.

Sebagai kesimpulan, media sosial bikin bahasa Indonesia bergerak cepat, kosakata baru muncul, gaya ekspresi makin beragam, dan kreativitas makin kelihatan. Di sisi lain, kebiasaan tidak baku bisa kebawa ke ruang formal, lalu bikin tulisan akademik atau profesional jadi kurang kuat. Kuncinya ada di kontrol, bukan larangan, kamu boleh ikut tren, tapi tetap tahu kapan harus rapi dan jelas.

Dualisme Berbahasa: Bagaimana Gen Z Menyeimbangkan Formalitas dan Tren dalam Berkomunikasi