Oleh :Fatma Tapalili Dan Abraham D Waitau
“Pak, sy gk bsa ikut kelas hr ini krn ada urgnsi.”
Pesan seperti ini bukan hal langka di kalangan mahasiswa. Tanpa disadari, bahasa chat yang biasa digunakan di WhatsApp atau media sosial sering terbawa ke ruang akademik. Fenomena bahasa chat yang semakin disingkat kini bukan sekadar gaya komunikasi, melainkan kebiasaan yang melekat dalam kehidupan mahasiswa sehari-hari.
Di satu sisi, bahasa singkatan terasa praktis dan cepat. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan: apakah kebiasaan ini masih relevan ketika dibawa ke ruang formal seperti perkuliahan?
Bahasa Singkat sebagai Produk Kehidupan Digital
Mahasiswa hidup di tengah arus komunikasi digital yang intens. Grup kelas, organisasi, tugas, hingga urusan pribadi hampir semuanya berlangsung lewat chat. Dalam situasi seperti ini, kecepatan sering kali menjadi prioritas.
Kata “tidak” berubah menjadi “gk”, “bisa” menjadi “bsa”, dan “karena” menjadi “krn”. Bahkan, satu emoji kerap dianggap cukup untuk mewakili respons. Bahasa chat pun berkembang sebagai bahasa informal yang efisien dan dianggap wajar di lingkungan pertemanan.
Masalahnya, kebiasaan ini tidak selalu berhenti di ruang informal.
Contoh Kasus: Ketika Bahasa Chat Masuk Ruang Akademik
Seorang mahasiswa menghubungi dosen dengan menyertakan salam pembuka, tetapi isi pesannya ditulis serba singkat, seperti sedang chat dengan teman. Meski terlihat sopan di awal, gaya bahasa yang terlalu santai membuat pesan tersebut kurang pantas untuk konteks akademik.
Hal serupa juga muncul saat pengumpulan tugas. Beberapa mahasiswa menulis laporan dengan bahasa percakapan, penuh singkatan, bahkan diselipi istilah gaul, sehingga kesannya kurang serius.
Saya sendiri pernah hampir mengirim pesan seperti itu ke dosen. Setelah dibaca ulang, barulah terasa bahwa bahasanya kurang tepat. Sejak saat itu, saya menjadi lebih berhati-hati dalam memilih kata.
Fenomena ini bukan karena mahasiswa tidak mampu menulis dengan baik, melainkan karena kebiasaan bahasa chat sudah terlalu melekat dan terbawa tanpa sadar.
Antara Efisiensi dan Kesadaran Konteks
Bahasa chat yang disingkat sebenarnya bukan masalah besar. Ia lahir dari kebutuhan komunikasi yang cepat dan santai. Dalam konteks tertentu, seperti obrolan dengan teman, penggunaan bahasa ini justru terasa wajar dan efektif.
Masalah muncul ketika batas antara ruang santai dan ruang formal menjadi kabur. Mahasiswa seharusnya mampu menyesuaikan gaya bahasa sesuai konteks, terutama dalam dunia akademik yang menuntut kejelasan dan profesionalisme.
Kemampuan berbahasa bukan hanya soal bisa berbicara atau menulis, tetapi juga soal memilih bentuk bahasa yang tepat. Menurut saya, persoalannya bukan terletak pada singkatannya, melainkan pada rendahnya kesadaran konteks dalam berbahasa.
Apakah Bahasa Indonesia Jadi Korban?
Kekhawatiran bahwa bahasa singkatan akan merusak bahasa Indonesia sering terdengar. Padahal, bahasa pada dasarnya selalu berkembang. Yang terancam bukan bahasanya, melainkan kesadaran penggunanya.
Selama mahasiswa masih mampu menulis esai, laporan, dan komunikasi resmi dengan bahasa yang baik dan benar, bahasa chat tidak akan menjadi ancaman serius. Ia hanyalah salah satu ragam bahasa, bukan pengganti bahasa baku.
Yang perlu diperkuat adalah kesadaran berbahasa—tahu kapan boleh santai dan kapan harus menggunakan bahasa yang lebih rapi.
Menjadi Mahasiswa yang Sadar Bahasa
Bahasa chat yang ringkas sudah menjadi bagian dari keseharian mahasiswa. Ia hadir sebagai respons atas ritme hidup yang serba cepat. Namun, di saat yang sama, mahasiswa juga berada dalam ruang akademik yang menuntut ketepatan, kejelasan, dan kesantunan berbahasa.
Di sinilah kesadaran berbahasa menjadi penting. Menggunakan bahasa singkat saat chat bukanlah persoalan, selama kita mampu menempatkan diri ketika berbicara atau menulis dalam konteks akademik.
Pada akhirnya, bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga cermin sikap dan cara berpikir. Ketika mahasiswa mampu menyesuaikan bahasa dengan situasi yang dihadapi, di situlah terlihat kedewasaan—bukan hanya dalam berkomunikasi, tetapi juga dalam bersikap.