Skip ke Konten

Dualisme Berbahasa: Bagaimana Gen Z Menyeimbangkan Formalitas dan Tren dalam Berkomunikasi

6 Januari 2026 oleh
sanfamedia

Disusun Oleh: Arnold Darmawan, Glean Richard Priyono, M. Gilang Eka Putra

Bahasa itu sifatnya dinamis, selalu berubah mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Saat ini, kita bisa melihat bagaimana Gen Z menciptakan "kamus" mereka sendiri yang terus berkembang pesat melalui media sosial seperti TikTok, X, dan Instagram. Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar soal menambah kosakata baru, melainkan cara unik Gen Z dalam mengombinasikan dua gaya bahasa sekaligus dalam keseharian mereka.

Secara sosiolinguistik, fenomena ini dijelaskan oleh pakar bahasa Indonesia Abdul Chaer (2010), yang menyebutkan bahwa kemunculan variasi bahasa adalah hal wajar sebagai bentuk kreativitas pembicara dalam merespons situasi sosial yang terjadi. Penggunaan istilah-istilah baru ini sengaja dilakukan untuk membangun identitas kelompok dan mempererat ikatan sesama generasi muda di ruang digital. Jadi, gaya bahasa ini adalah simbol identitas Gen Z yang muncul sebagai respon terhadap derasnya arus informasi saat ini.Namun, intinya bukan berarti bahasa baku jadi dilupakan. Yang menarik adalah bagaimana generasi ini bisa luwes berpindah-pindah gaya bahasa. Istilah seperti flexing, gaspol, salty, atau fenomena "Bahasa Jaksel" bukan cuma buat gaya-gayaan, tapi cara mereka beradaptasi dengan informasi global di dunia digital (Sari, 2020). Artikel ini akan membahas bagaimana cara Gen Z mengatur gaya bahasa mereka, kapan harus formal di dunia profesional, dan kapan harus ekspresif serta kreatif di media sosial

 Media Sosial: Laboratorium Perpaduan Bahasa

Kalau kita perhatikan linimasa TikTok atau X (Twitter), penggunaan bahasa campuran (code-mixing) sudah jadi hal yang biasa. Menariknya, perpaduan ini sebenarnya berfungsi sebagai "bahasa penyambung" atau jembatan komunikasi. Mengapa? Karena bahasa baku sering kali dianggap terlalu kaku untuk konten yang santai, sementara kalau pakai bahasa slang (gaul) sepenuhnya, takutnya pesan yang ingin disampaikan malah jadi tidak jelas atau kurang serius.

Akhirnya, muncul struktur kalimat unik yang menggabungkan keduanya. Contoh sederhananya adalah kalimat: "Jujurly, rapat tadi itu sangat krusial." Di sini kita bisa lihat bagaimana Gen Z tetap ingin menyampaikan poin yang penting (krusial), tapi tetap dibalut dengan gaya yang lebih santai (jujurly).

Mengapa Harus Dicampur? (Bukan Sekadar FOMO)

Kenapa sih Gen Z terlihat nyaman banget mencampurkan dua bahasa dalam satu kalimat? Kalau kita perhatikan lebih dalam, ini sebenarnya adalah bentuk kreativitas dalam berbahasa. Penggunaan istilah seperti burnout, misalnya, bukan cuma buat gaya-gayaan. Kata ini dipakai karena dianggap lebih pas untuk menggambarkan kondisi lelah secara mental yang sulit dijelaskan kalau hanya memakai satu kata dalam bahasa Indonesia.

Dalam konteks Indonesia, fenomena ini dijelaskan oleh Rahardi (2001) sebagai bentuk gejala sosiolinguistik di mana penutur ingin menunjukkan sisi modernitas namun tetap dalam koridor komunikasi yang efektif. Selain itu, menurut riset dalam Jurnal Skripta (Azizah, 2019), mencampur bahasa sering kali terjadi karena adanya "kekosongan konsep". Artinya, ada istilah asing yang dirasa lebih praktis dan belum punya padanan kata yang sebanding di bahasa Indonesia untuk menjelaskan perasaan tertentu secara instan. Jadi, dengan mencampur bahasa, Gen Z sebenarnya sedang berusaha memastikan agar maksud dan perasaan mereka sampai ke lawan bicara dengan tepat tanpa mengurangi makna aslinya.

Bahasa Baku di Mata Gen Z: Masih Relevan?

Banyak orang mengira Gen Z sudah tidak peduli lagi dengan bahasa baku. Padahal, faktanya tidak seperti itu. Gen Z sebenarnya masih menganggap bahasa baku itu penting, terutama untuk hal-hal yang sifatnya formal seperti tugas kuliah atau dunia kerja.

Namun, memang ada pergeseran cara pandang: bahasa baku kini dianggap sebagai "bahasa kerja", sedangkan bahasa campuran adalah "bahasa untuk menjalin kedekatan". Menurut pakar bahasa Abdul Chaer (2010), kemampuan untuk memilih variasi bahasa yang tepat sesuai dengan situasi dan lawan bicara adalah tanda bahwa seseorang memiliki kecerdasan dalam berkomunikasi. Jadi, saat Gen Z bisa berganti gaya dari formal ke santai, itu sebenarnya membuktikan bahwa mereka sangat mahir menempatkan diri sebuah keterampilan yang dalam sosiolinguistik disebut sebagai kemahiran beradaptasi dengan fungsi bahasa.

Realita dalam Angka

Berdasarkan data dari jurnal "Dinamika dan Problematika Bahasa Indonesia di Era Digital", tercatat sebanyak 53,6% generasi muda aktif menggunakan bahasa gaul dan singkatan. Namun, ada kesadaran kritis yang muncul: sekitar 84,6% dari responden mengakui bahwa keterusan menggunakan bahasa campuran berisiko mengikis pemahaman mereka terhadap tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kesimpulan

Ok jadi gaya bahasa Gen Z yang campur aduk sebenarnya bukan tanda kalau bahasa Indonesia lagi terancam, melainkan cara kita beradaptasi dengan dunia digital. Gen Z juga masih dapat memahami kapan waktunya pake Bahasa baku dan Bahasa Modern Ketika berkomunikasi dengan lawan bicara. Selama kita masih sadar akan pentingnya bahasa baku di situasi yang tepat, keragaman bahasa ini justru jadi bukti kalau bahasa Indonesia itu sangat dinamis dan selalu hidup.

Visual, Interaktif, Digital: Rahasia Sukses Mengajar Bahasa Indonesia di Era PAUD Modern