Dususun oleh: Asep Sutyana, Fajar Nasrulloh (1a79169959@gmail.com, 2Ajaynas73@gmail.com)
Teknik Informatika, Universitas Pamulang, Indonesia
Pendahuluan
Permasalahan ini menjadi penting karena kemampuan membedakan ragam bahasa merupakan bagian dari kompetensi akademik dan profesional mahasiswa. Jika penggunaan AI tidak disertai kesadaran linguistik, dikhawatirkan mahasiswa akan semakin abai terhadap ketepatan berbahasa sesuai situasi. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa pemanfaatan AI di dunia pendidikan perlu disertai sikap kritis, agar teknologi ini benar-benar mendukung pengembangan kemampuan bahasa, bukan justru melemahkannya.
Hasil dan pembahasan
Penggunaan aplikasi Artificial Intelligence (AI) di kalangan mahasiswa, khususnya dalam aktivitas menulis dan berbahasa, menurut penulis merupakan fenomena yang semakin relevan untuk dicermati. Dari pengalaman dan respons mahasiswa yang dihimpun melalui kuesioner daring, terlihat bahwa AI telah menjadi bagian dari rutinitas akademik dalam beberapa bulan terakhir. Banyak mahasiswa memanfaatkan AI untuk membantu menyelesaikan tugas, mencari penjelasan, serta merumuskan ide dan kerangka tulisan. Penulis berpendapat bahwa kebiasaan ini tidak hanya berdampak pada efisiensi belajar, tetapi juga mulai memengaruhi cara mahasiswa memilih kosakata dan membangun gaya penulisan. Pengaruh tersebut tampak muncul baik dalam konteks formal maupun informal, sehingga AI secara perlahan ikut membentuk kebiasaan berbahasa mahasiswa, bukan sekadar berperan sebagai alat bantu teknis.
a.Pola dan Kebiasaan Penggunaan AI

Pola penggunaan aplikasi AI seperti ChatGPT, Gemini, atau Copilot dalam survei ini menunjukkan variasi frekuensi yang menarik di antara responden. Data yang diperoleh dari 21 jawaban mengungkapkan bahwa sebagian pengguna sudah mengintegrasikan teknologi ini ke dalam rutinitas harian mereka. Namun, persentase yang signifikan juga menunjukkan bahwa penggunaan AI masih bersifat kadang-kadang atau bahkan belum pernah dicoba sama sekali oleh beberapa individu.
Persentase tersebut menggambarkan bahwa meskipun teknologi AI sudah semakin mudah diakses, penerapannya dalam kehidupan sehari-hari belum menjadi kebiasaan yang tetap bagi banyak orang. Mayoritas pengguna cenderung memanfaatkannya hanya pada saat tertentu atau dalam situasi yang dirasa membutuhkan, misalnya untuk membantu pekerjaan, mencari informasi, atau sekadar bereksperimen. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh tingkat kesadaran, kebutuhan, atau bahkan kepercayaan terhadap kemampuan aplikasi AI itu sendiri.
b. Tujuan Utama Penggunaan Aplikasi AI

Di sisi lain, penggunaan AI untuk keperluan kreatif dan komunikatif seperti menerjemahkan bahasa, menulis caption media sosial, atau membuat konten juga terlihat cukup signifikan. Namun secara umum, pola penggunaan menunjukkan bahwa AI lebih diposisikan sebagai fasilitator aktivitas berbasis pengetahuan dan tugas praktis, sementara fungsi sebagai pendamping sosial belum menjadi tujuan utama bagi sebagian besar pengguna.
c. Pengunaan bahasa indonesia dalam berinteraksi dengan AI

Menurut penulis, meskipun respons AI dalam bahasa formal sudah tepat secara kaidah, penggunaan bahasa yang terlalu baku justru membuat interaksi terasa kaku dan kurang alami. Oleh karena itu, AI seharusnya tidak hanya berfokus pada ketepatan struktur bahasa, tetapi juga mampu menghadirkan fleksibilitas bahasa agar komunikasi terasa lebih hidup dan mendekati cara manusia berinteraksi. Jika fleksibilitas ini tidak dikembangkan, AI berpotensi hanya menjadi alat yang benar secara tata bahasa, tetapi kurang efektif sebagai mitra komunikasi yang nyaman bagi penggunanya.
d. Pengaruh Penggunaan AI terhadap Kosakata Bahasa Indonesia
Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas responden belum merasakan peningkatan berarti pada kekayaan kosakata bahasa Indonesia meskipun sering menggunakan aplikasi AI. Penggunaan bahasa gaul bersama AI lebih berfokus pada kenyamanan komunikasi tanpa mendorong eksplorasi kosakata baru, sementara penggunaan bahasa formal cenderung menekankan ketepatan struktur tetapi masih terbatas pada pilihan kata yang umum. Secara keseluruhan, AI lebih dipandang sebagai alat komunikasi yang praktis daripada sarana pengayaan kosakata, sehingga pengembangan kemampuan bahasa tetap bergantung pada kesadaran pengguna dan variasi respons AI.
e. Kemampuan AI dalam Memahami Ragam Bahasa Gaul dan Formal

Secara keseluruhan, persepsi mahasiswa menunjukkan bahwa kemampuan AI dalam memahami bahasa formal dan bahasa gaul masih relatif seimbang, tanpa keunggulan yang sangat menonjol pada salah satunya. Pengalaman berinteraksi dengan AI dipengaruhi oleh konteks, topik, serta kejelasan struktur bahasa yang digunakan. Hal ini menegaskan bahwa pengembangan AI dalam pemrosesan bahasa Indonesia masih memerlukan penyempurnaan agar mampu beradaptasi secara optimal dalam komunikasi formal maupun informal.
f. Kenyamanan Penggunaan Bahasa Gaul Dibandingkan Bahasa Baku Dengan AI

Walalupun hasil survey, menjukan responden memilih skala 3 (netral) dengan persentase 23,8% dalam menilai apakah penggunaan AI memperkaya kosakata bahasa Indonesia mereka, yang menunjukkan bahwa banyak pengguna belum merasakan dampak yang jelas atau signifikan dari interaksi dengan AI terhadap kekayaan kosakata, baik dalam bahasa gaul maupun formal, karena dalam praktiknya AI lebih sering dimanfaatkan sebagai alat yang responsif dan solutif untuk memberikan jawaban langsung sesuai kebutuhan tanpa secara aktif mendorong pengenalan variasi kosakata baru atau eksplorasi kebahasaan yang lebih mendalam, sehingga interaksi yang terjadi cenderung bersifat praktis dan efisien, bukan sebagai proses pembelajaran bahasa, sementara dominannya pilihan netral juga mencerminkan adanya keraguan responden dalam menilai pengaruh AI yang mungkin bersifat bertahap atau belum konsisten dalam memberikan paparan bahasa yang beragam, yang pada akhirnya menegaskan bahwa potensi AI dalam memperkaya kosakata sangat bergantung pada pola penggunaan oleh pengguna serta desain sistem AI itu sendiri dalam mendorong pengembangan kemampuan linguistik.
g. Keterbatasan AI dalam Menghasilkan Respons yang Natural

Hasil survei menunjukkan bahwa banyak pengguna menilai respons AI dalam bahasa formal terasa kaku dan kurang natural, terlihat dari dominasi responden yang menyatakan setuju dan sangat setuju dibandingkan yang tidak setuju. Persepsi ini muncul karena AI cenderung menggunakan struktur kalimat dan pilihan kata baku secara konsisten, sehingga jawaban yang dihasilkan sering terasa terlalu lurus, minim variasi, dan kurang menampilkan nuansa ekspresif. Meskipun bahasa formal menawarkan kejelasan dan keteraturan, penggunaan pola yang terlalu standar tanpa penyesuaian gaya, nada, atau konteks membuat interaksi terkesan mekanis dan kurang manusiawi.
Minimnya unsur idiomatik dan sentuhan personal turut mengurangi rasa kedekatan dalam komunikasi, terutama bagi pengguna yang terbiasa dengan gaya bahasa yang lebih fleksibel. Kondisi ini menyebabkan AI dipandang lebih cocok sebagai alat bantu informasional daripada mitra percakapan yang alami. Dengan demikian, meskipun secara kaidah respons AI sudah tepat, peningkatan fleksibilitas bahasa tetap diperlukan agar interaksi terasa lebih hidup dan kontekstual.Kosakata dan Struktur Kalimat AI dalam Komunikasi Sehari-hari
h. Kosakata dan Struktur Kalimat AI dalam Komunikasi Sehari-hari

Hasil survei menunjukkan bahwa AI mulai memengaruhi kebiasaan berbahasa sebagian pengguna, khususnya dalam percakapan informal, tetapi pengaruh ini belum dominan karena banyak pengguna masih mempertahankan gaya bahasa pribadi. Pengaruh tersebut umumnya terlihat pada pemilihan kata dan susunan kalimat yang dianggap praktis dan mudah digunakan. Namun, tidak semua pengguna secara sadar meniru bahasa dari AI dalam komunikasi sehari-hari. Sebagian pengguna tetap membedakan bahasa yang digunakan saat berinteraksi dengan AI dan saat berbicara dengan orang lain. Hal ini menunjukkan adanya kontrol dan kesadaran linguistik dalam penggunaan teknologi. Dengan demikian, AI berperan sebagai faktor pendukung perubahan bahasa, bukan sebagai penentu utama.
i. Pengaruh AI terhadap Perkembangan Ragam Bahasa Indonesia

Hasil survei menunjukkan bahwa hampir setengah responden menilai AI belum memberikan dampak besar terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Sebagian responden melihat AI berperan dalam menjaga penggunaan bahasa baku karena cenderung mengikuti kaidah yang benar dan terstruktur. Di sisi lain, ada pula yang menilai AI ikut mendorong penggunaan bahasa gaul melalui pola interaksi yang lebih santai dan fleksibel. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa persepsi pengguna terhadap pengaruh AI masih beragam dan belum mengarah pada kesimpulan tunggal. Banyak pengguna bersikap hati-hati karena perubahan bahasa dianggap terjadi secara perlahan dan tidak langsung. Selain itu, peran AI sering dipandang hanya sebagai alat bantu, bukan faktor utama pembentuk kebiasaan berbahasa. Secara umum, AI belum dianggap mampu mengubah arah perkembangan bahasa Indonesia secara signifikan.
j. Penyesuaian Bahasa Pengguna untuk Optimalkan Pemahaman AI

Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna merasa tidak perlu mengubah cara berbicara saat berinteraksi dengan AI dan tetap menggunakan bahasa sehari-hari. Namun, sebagian responden memilih menyesuaikan gaya bahasa, baik dengan menggunakan bahasa formal agar lebih mudah dipahami AI, maupun bahasa gaul karena dianggap lebih santai. Perbedaan pilihan ini mencerminkan pandangan yang beragam tentang cara AI memproses bahasa, sekaligus menunjukkan tantangan bagi pengembangan AI agar mampu memahami berbagai ragam bahasa Indonesia tanpa memaksa pengguna mengubah gaya berbahasa mereka.
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, menurut penulis penggunaan aplikasi Artificial Intelligence seperti ChatGPT, Gemini, dan Deepseek membawa dampak yang tidak dapat dilihat secara hitam-putih terhadap kebiasaan berbahasa mahasiswa. Di satu sisi, AI terbukti membantu mahasiswa dalam konteks akademik, terutama dalam menyusun tugas, merumuskan gagasan, dan mencari referensi. Pemanfaatan tersebut secara tidak langsung mendorong mahasiswa untuk lebih terbiasa menggunakan bahasa baku serta meningkatkan kesadaran dalam menyesuaikan ragam bahasa dengan konteks formal maupun informal.
Namun, di sisi lain, menurut penulis, interaksi santai dengan AI juga memperkuat kecenderungan penggunaan bahasa gaul dalam komunikasi nonformal. Kenyamanan berbahasa informal membuat batas antara bahasa baku dan bahasa gaul menjadi kurang tegas, terutama karena AI mampu menyesuaikan respons dengan gaya bahasa pengguna. Meskipun pengaruh ini belum tergolong dominan, kecenderungan tersebut tetap perlu diperhatikan karena berpotensi memengaruhi konsistensi mahasiswa dalam berbahasa.
Selain itu, menurut penulis, keterbatasan AI dalam memahami dan menghasilkan ragam bahasa Indonesia masih cukup terasa. Bahasa gaul yang bersifat lokal dan kontekstual belum sepenuhnya dipahami secara optimal, sementara penggunaan bahasa formal sering kali menghasilkan respons yang kaku dan kurang alami. Di samping itu, kontribusi AI dalam memperkaya kosakata bahasa Indonesia masih relatif rendah karena interaksi lebih berorientasi pada kepraktisan dibandingkan pembelajaran bahasa yang mendalam.
Dengan demikian, menurut penulis, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai penentu arah perkembangan bahasa. Pemanfaatannya dalam dunia pendidikan perlu diimbangi dengan sikap kritis dari mahasiswa dan pendidik. Integrasi etika penggunaan AI dalam pembelajaran menjadi langkah penting agar teknologi ini dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengaburkan batas ragam bahasa serta tetap menjaga kualitas dan kekayaan bahasa Indonesia.